Minggu, 16 November 2008

Jawaban USM Manajemen Pemasaran

Bagaimanakah idealnya aplikasi dan pengembangan perencanaan strategis pemasaran dalam menghadapi realitas kompetisi bisnis? uraikan jawaban anda dengan mengedepankan realitas pragmatis

Yang dimaksud dengan Pengembangan Perencanaan (Action Plan Development) adalah :

1. Identifying the Issue or Challenge
Langkah pertama dalam pengembangan perencanaan adalah mengidentifikasi tantangan yang sedang dihadapi atau yang sedang berkembang di sekitar kita, artinya kita harus benar-benar mengetahui langkah awal apa yang akan kita ambil. Tentu saja pelaksanaan langkah ini memerlukan data yang akurat dan waktu yang tepat yang disertai pertimbangan-pertimbangan yang bijak yang bertemali dengan situasi internal dan eksternal yang sedang berjalan. Biasanya untuk langkah ini diperlukan suatu tindakan riset singkat baik berupa obeservasi atau wawancara terhadap beberapa responden potensial.
Hasil yang diperoleh dapat berupa data atau grafik, namun kesemuanya itu harus bermuara pada satu gambaran pasti tentang keadaan yang sedang terjadi. Misalnya kejadian baru-baru ini, mulai pertengahan bulan oktober terjadi goncangan ekonomi di Amerika Serikat, sehingga mengakibatkan fluktuasi perekonomian dunia yang dampaknya juga menghampiri dan menimpa perekonomian Indonesia, dalam keadaan yang tidak menentu tersebut akan banyak peluang yang didapat, namun peluang yang ada sebanding dengan resiko yang akan kita terima apabila kita salah langkah dalam mengantisipasi keadaan yang tidak stabil tersebut.
Data yang didapat akan sangat berguna dalam penentuan langkah selanjutnya, apakah memungkinkan bila kita melepas suatu jenis produk dalam keadaan rupiah melemah?, apakah kita akan tetap menerapkan harga yang berlaku sebelum periode fkuktuasi ekonomi dunia atau menaikkan harga mengkuti kurs yang sedang berlaku?, apabila ya, maka resiko yang akan kita ambil adalah harus bersiap-siap untuk merugi, sebab tanggapan pasar belum tentu sejalan dengan perencanaan yang telah kita susun. Untuk itu langkah mengidentifikasi keadaan pasar akan sangat bermanfaat bagi penentuan langkah selanjutnya.

2. Evaluating the Challenge
Dalam mengavaluasi tantangan yang sedang terjadi atau yang akan kita hadapi, maka kita selain menggunakan data akurat yang telah kita peroleh dari langkah pertama, kita juga memerlukan rujukan para ahli dan praktisi yang bergelut dalam bidangnya, apabila kita tidak dapat bertanya langsung, amak kita dapat memantaunya melalui pedapat para ahli yang ditayangkan melalui saluran televisi atau melalui media cetak yang bertajuk ekonomi.
Memantau keadaan dengan memperhitungkan situasi berdasarkan pendapat, prakiraan dan pengamatan para pakar ekonomi. Hal ini sangat berguna mengingat fluktuasi ekonomi dapat berlangsung dalam waktu yang cukup lama, sehingga kita tidak akan dapat memperkirakan sampai sejauh mana kebijakan temporer yang akan kita buat dalam menghadapi situasi seperti ini. Kebijakan yang disusun harus benar-benar mampu membuat suasana usaha kita tetap survive, dengan demikian pelaksanaan pemasaran produk yang kita lepas ke pasar hasilnya tidak akan jauh berbeda dengan perhitungan prakiraan awal. Inilah fungsi dari langkah ke dua ini.

3. Developing a Mission Statement
Salah satu langkah strategis dalam penyusunan pengembangan perencanaan adalah dengan mengembangkan serta memperjelas arah perencanaan secara detil, walau secara pasti kita akan dibayangi oleh ketidak-pastian fluktuasi ekonomi yang sedang berjalan, namun secara umum kita harus dapat dengan pasti menggambarkan serta menciptakan sebuah rencana, walau untuk periode jangka pendek namun pemasaran harus tetap berjalan, seiring dengan keadaan dan tuntutan pasar.
Keputusan yang dibuat harus bear-benar dipahami dan dikuasai oleh seluruh komponen perusahaan, sehingga dalam perjalanan dan langkah berikutnya setiap personal yang terlibat mengetahui fungsi dan tanggungjawab yang dipikulnya. Secara umum serluruh komponen yang terlibat akan berupaya berjuang untuk kemajua perusahaan.
Langkah Development a Mission Statement termasuk kedalam proses internal perusahaan, para menejer harus berupaya menciptakan langkah-langkah nyata yang harus diambil berdasarkan situasi pasar, apabila digambarkan dengan rumusan sederhana, maka perusahaan harus dapat mengkalkulasikan siatuasi dan keadaan variable-cost pra-produksi dan pasca-produksi dengan kebutuhan pasar yang ditunjang dengan upaya promosi yang lebih baik dan lebih mengena.

4. Creating Goals
Langkah ke empat adalah membidik serta menentukan sasaran pasar, apabila produk yang kita hasilkan berupa barang, maka kita harus memperhitungkan beberapa langkah strategis yang berkenaan dengan sifat konsumen, antara lain:
a. Konsumen selalu menginginkan kepuasan atas barang yang telah dibelinya, sehingga dalam berproduksi kita harus memperhitungkan kualitas barang dalam batasan wajar, artinya bukan hanya bentuk indah yang ditampilkan , namun kuga ketahanan produk tersebut yang harus diperhitungkan,
b. Kemasan yang menarik dan mudah dikenal kekhasan-nya, artinya kita mencoba membuat kemasan yang lain dari kemasan produk sejenis yang sudah ada di pasaran, hal ini untuk memudahkan pelanggan dengan cepat mengetahui jenis produk kita hanya dari kemasan. Banyak factor yang bertemali dengan kemasan, selain bentuk, jenis huruf dan settingan logo produk juga warna yang mencolok dan mudah dilihat apabila berada ditempat yang penuh dengan produk sejenis, seperti di supermarket misalnya.
c. Expire date yang valid apabila produk kita termasuk kedalam consumer goods, sebab orang akan denan segera melihat tanggal kadaluarsa suatu produk apabila hendak membelinya, dengan demikian hal ini berkaitan erat dengan manajemen pemasaran yang berada di bawah kendali manajer pemasaran. Manajer harus tahu kapan waktu penarikan produk yang hamper mencapai limit Expire date, sehingga tidak ada keluhan dari pihak konsumen yang berkaitan dengan produk yang telah kadaluarsa.
d. Mempunyai strata daya jual dan nilai jual yang lebih tinggi dibanding dengan produk sejenisnya, sehingga konsumen akan merasa bergengsi bila menggunakan produk kita, ini bukan suatu hal yang mudah namun dengan kerjasama antar departemen yang baik, maka bukan suatu hal yang tidak mungkin bila kita menciptakan produk yang sederhana tetapi bermutu dan bernilai jual tinggi.
e. Mudah didapatkan di mana saja, tentu saja manajer pemasaran harus melakukan survey dalam memutuskan dan menentukan wilayah mana saja yang akan menjadi pangsa pasar potensial yang harus digarap dan terus dipelihara keberadaannya. Ini berkaitan dengan selera dan taste dari produk yang kita pasarkan, seperti juga kita mengetahui ternyata ada beberapa produk pangan yang hanya ditemui di wilayah pantai utara pulau jawa, karena wilayah tersebut sangat mendukung jenis produk yang kita pasarkan. Langkah ini sederhana tetapi masuk di akal, sebab kita tidak mungkin atau hampir mustahil untuk menjual lemari es dan pendingin ruangan di wilayah kutub.
f. Harga yang relatif terjangkau (bukan murah atau murahan) untuk ukuran dan jenis produk yang sejenis yang berada di pasaran. Penentuan harga dapat dilakukan berdasarkan survey, wawancara atau obeservasi langsung ke konsumen, sehingga kita dapat mengetahui dengan jelas berapa harga yang akan kita kenakan untuk produk kita pada suatu daerah atau wilayah, sebab kita tahu bahwa lebih jauh wilayah pemasaran, maka akan lebih besar cost-marketing-nya disebabkan oleh tingginya biaya transportasi menuju dserah tersebut. Cara yang teraman adalah dengan menghitung biaya transportasi ke wilayah terjauh ditambah harga pemasaran, maka jadikan itu sebagai harga jual yang berlaku untuk wilayah mana saja.

Apabila yang kita jual berupa jasa, maka setrateginyapun akan berbeda pula, sebab untuk jenis layanan jasa, kita akan berhadapan langsung dengan konsumen, sehingga produk jasa yang kita tawarkan harus benar-benar terjaga kualitasnya.

5. Constructing Action Steps
Sekarang sampailah kita pada langkah ke lima, dimana kita harus mereka ulang seluruh perencanaan awal untuk menjadi evaluasi awal sebelum kita benar-benar bergerak secara totalitas dalam memasarkan produk yang kita miliki. Apabila perlu kita arus berani merubah struktur dasar dari cara pemasaran yang sudah kita susun bila hal itu benar-benar diperlukan, sehingga kita akan mendapatkan hasil yang optimal.
Meninjau ulang kembali strategi pemasaran sebagai evaluasi dini banyak dikerjakan oleh perusahaan-perusahaan besar kelas internasional, namun tidak ada salahnya bila kita mencoba menerapkan langkah tersebut pada perusahaan yang sedang kita kelola, sehingga kita benar-benar siap untuk bersaing dengan competitor lain.

Dengan demikian, penerapan dan pengembangan perencanaan strategis pemasaran dalam menghadapi realita kompetisi bisnis adalah berupa :
a. Penentuan serangkaian perencanaan berdasarkan data yang akurat serta prakiraan yang mendekati nyata tentang keadaan pasar.
b. Memperhitungkan segala kemungkinan yang akan dihadapi dengan berbekal akurasi data yang telah diperoleh serta selera pasar terhadap produk yang akan kita pasarkan
c. Uji coba dalam skala kecil yang dianggap representatif untuk mencoba memasarkan jenis produk yang kita susun, walau dalam kenyataanya akan sukar untuk mengukur selera pasar terhadap produk yang akan dan sedang kita pasarkan.
d. Selalu mempunyai rencana alternatif lain yang memungkinkan kita dapat langsung merubah paradigma yang ada dengan strategi baru sesuai dengan perkembangan pasar, artinya kita harus dapat melakukan sampling dengan resiko trial and error terhadap rencana yang telah kita susun.
e. Adakan evaluasi berkala, serta evaluasi spontan yang bertemali dengan keadaan pasar untuk merancang langkah-langkah selanjutnya.










Bagaimanakah tantangan aplikasi etika bisnis dalam dinamika bisnis global saat ini? Apakah aspek etika bisnis tetap perlu dikedepankan?

Etika dan integritas merupakan suatu keinginan yang murni dalam membantu orang lain. Kejujuran yang ekstrim, kemampuan untuk mengenalisis batas-batas kompetisi seseorang, kemampuan untuk mengakui kesalahan dan belajar dari kegagalan.
Kompetisi inilah yang harus memanas belakangan ini. Kata itu mengisyaratkan sebuah konsep bahwa mereka yang berhasil adalah yang mahir menghancurkan musuh-musuhnya. Banyak yang mengatakan kompetisi lambang ketamakan. Padahal, perdagangan dunia yang lebih bebas dimasa mendatang justru mempromosikan kompetisi yang juga lebih bebas.
Lewat ilmu kompetisi kita dapat merenungkan, membayangkan eksportir kita yang ditantang untuk terjun ke arena baru yaitu pasar bebas dimasa mendatang. Kemampuan berkompetisi seharusnya sama sekali tidak ditentukan oleh ukuran besar kecilnya sebuah perusahaan. Inilah yang sering dikonsepkan berbeda oleh penguasa kita.
Jika kita ingin mencapai target ditahun 2010, sudah saatnya dunia bisnis kita mampu menciptakan kegiatan bisnis yang bermoral dan beretika, yang terlihat perjalanan yang seiring dan saling membutuhkan antara golongan menengah kebawah dan pengusaha golongan atas.
Dalam menciptakan etika bisnis, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan antara lain yaitu pengendalian diri, pengembangan tanggung jawab sosial, mempertahankan jati diri, menciptakan persaingan yang sehat, menerapkan konsep pembangunan tanggung jawab sosial, mempertahankan jati diri, menciptakan persaingan yang sehat, menerapkan konsep pembangunan yang berkelanjutan, menghindari sikap 5K (Katabelece, Kongkalikong, Koneksi, Kolusi, dan Komisi) mampu mengatakan yang benar itu benar, dll.
Dengan adanya moral dan etika dalam dunia bisnis, serta kesadaran semua pihak untuk melaksanakannya, kita yakin jurang itu dapat dikurangi, serta kita optimis salah satu kendala dalam menghadapi era globalisasi dapat diatasi.

a. Moral Dalam Dunia Bisnis
Sejalan dengan berakhirnya pertemuan para pemimpin APEC di Osaka Jepang dan dengan diperjelasnya istilah untuk menjadikan Asia Pasifik ditahun 2000 menjadi daerah perdagangan yang bebas sehingga baik kita batas dunia akan semakin "kabur" (borderless) world. Hal ini jelas membuat semua kegiatan saling berpacu satu sama lain untuk mendapatkan kesempatan (opportunity) dan keuntungan (profit). Kadangkala untuk mendapatkan kesempatan dan keuntungan tadi, memaksa orang untuk menghalalkan segala cara mengindahkan ada pihak yang dirugikan atau tidak.
Dengan kondisi seperti ini, pelaku bisnis kita jelas akan semakin berpacu dengan waktu serta negara-negara lainnya agar terwujud suatu tatanan perekonomian yang saling menguntungkan. Namun perlu kita pertanyakan apakah yang diharapkan oleh pemimpin APEC tersebut dapat terwujud manakala masih ada bisnis kita khususnya dan internasional umumnya dihinggapi kehendak saling "menindas" agar memperoleh tingkat keuntungan yang berlipat ganda. Inilah yang merupakan tantangan bagi etika bisnis kita.
Jika kita ingin mencapai target pada tahun 2000 an, ada saatnya dunia bisnis kita mampu menciptakan kegiatan bisnis yang bermoral dan beretika, yang terlihat perjalanan yang seiring dan saling membutuhkan antara golongan menengah kebawah dan pengusaha golongan keatas. Apakah hal ini dapat diwujudkan ?
Berbicara tentang moral sangat erat kaitannya dengan pembicaraan agama dan budaya, artinya kaidah-kaidah dari moral pelaku bisnis sangat dipengaruhi oleh ajaran serta budaya yang dimiliki oleh pelaku-pelaku bisnis sendiri. Setiap agama mengajarkan pada umatnya untuk memiliki moral yang terpuji, apakah itu dalam kegiatan mendapatkan keuntungan dalam ber-"bisnis". Jadi, moral sudah jelas merupakan suatu yang terpuji dan pasti memberikan dampak positif bagi kedua belah pihak. Umpamanya, dalam melakukan transaksi, jika dilakukan dengan jujur dan konsekwen, jelas kedua belah pihak akan merasa puas dan memperoleh kepercayaan satu sama lain, yang pada akhirnya akan terjalin kerja sama yang erat saling menguntungkan.
Moral dan bisnis perlu terus ada agar terdapat dunia bisnis yang benar-benar menjamin tingkat kepuasan, baik pada konsumen maupun produsen. Kenapa hal perlu ini dibicarakan?
Isu yang mencuat adalah semakin pesatnya perkembangan informasi tanpa diimbangi dengan dunia bisnis yang ber "moral", dunia ini akan menjadi suatu rimba modern yang di kuat menindas yang lemah sehingga apa yang diamanatkan UUD 1945, Pasal 33 dan GBHN untuk menciptakan keadilan dan pemerataan tidak akan pernah terwujud.
Moral lahir dari orang yang memiliki dan mengetahui ajaran agama dan budaya. Agama telah mengatur seseorang dalam melakukan hubungan dengan orang sehingga dapat dinyatakan bahwa orang yang mendasarkan bisnisnya pada agama akan memiliki moral yang terpuji dalam melakukan bisnis. Berdasarkan ini sebenarnya moral dalam berbisnis tidak akan bisa ditentukan dalam bentuk suatu peraturan (rule) yang ditetapkan oleh pihak-pihak tertentu. Moral harus tumbuh dari diri seseorang dengan pengetahuan ajaran agama yang dianut budaya dan dimiliki harus mampu diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.

b. Etika Dalam Dunia Bisnis
Apabila moral merupakan sesuatu yang mendorong orang untuk melakukan kebaikan etika bertindak sebagai rambu-rambu (sign) yang merupakan kesepakatan secara rela dari semua anggota suatu kelompok. Dunia bisnis yang bermoral akan mampu mengembangkan etika (patokan/rambu-rambu) yang menjamin kegiatan bisnis yang seimbang, selaras, dan serasi.
Etika sebagai rambu-rambu dalam suatu kelompok masyarakat akan dapat membimbing dan mengingatkan anggotanya kepada suatu tindakan yang terpuji (good conduct) yang harus selalu dipatuhi dan dilaksanakan. Etika di dalam bisnis sudahtentu harus disepakati oleh orang-orang yang berada dalam kelompok bisnis serta kelompok yang terkait lainnya. Mengapa ?
Dunia bisnis, yang tidak ada menyangkut hubungan antara pengusaha dengan pengusaha, tetapi mempunyai kaitan secara nasional bahkan internasional. Tentu dalam hal ini, untuk mewujudkan etika dalam berbisnis perlu pembicaraan yang transparan antara semua pihak, baik pengusaha, pemerintah, masyarakat maupun bangsa lain agar jangan hanya satu pihak saja yang menjalankan etika sementara pihak lain berpijak kepada apa yang mereka inginkan. Artinya kalau ada pihak terkait yang tidak mengetahui dan menyetujui adanya etika moral dan etika, jelas apa yang disepakati oleh kalangan bisnis tadi tidak akan pernah bisa diwujudkan. Jadi, jelas untuk menghasilkan suatu etika didalam berbisnis yang menjamin adanya kepedulian antara satu pihak dan pihak lain tidak perlu pembicaraan yang bersifat global yang mengarah kepada suatu aturan yang tidak merugikan siapapun dalam perekonomian.
Dalam menciptakan etika bisnis, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, antara lain ialah

1. Pengendalian diri
Artinya, pelaku-pelaku bisnis dan pihak yang terkait mampu mengendalikan diri mereka masing-masing untuk tidak memperoleh apapun dari siapapun dan dalam bentuk apapun. Disamping itu, pelaku bisnis sendiri tidak mendapatkan keuntungan dengan jalan main curang dan menekan pihak lain dan menggunakan keuntungan dengan jalan main curang dan menakan pihak lain dan menggunakan keuntungan tersebut walaupun keuntungan itu merupakan hak bagi pelaku bisnis, tetapi penggunaannya juga harus memperhatikan kondisi masyarakat sekitarnya. Inilah etika bisnis yang "etis".

2. Pengembangan tanggung jawab sosial (social responsibility)
Pelaku bisnis disini dituntut untuk peduli dengan keadaan masyarakat, bukan hanya dalam bentuk "uang" dengan jalan memberikan sumbangan, melainkan lebih kompleks lagi. Artinya sebagai contoh kesempatan yang dimiliki oleh pelaku bisnis untuk menjual pada tingkat harga yang tinggi sewaktu terjadinya excess demand harus menjadi perhatian dan kepedulian bagi pelaku bisnis dengan tidak memanfaatkan kesempatan ini untuk meraup keuntungan yang berlipat ganda. Jadi, dalam keadaan excess demand pelaku bisnis harus mampu mengembangkan dan memanifestasikan sikap tanggung jawab terhadap masyarakat sekitarnya.

3. Mempertahankan jati diri dan tidak mudah untuk terombang-ambing oleh pesatnya perkembangan informasi dan teknologi
Bukan berarti etika bisnis anti perkembangan informasi dan Teknologi, tetapi informasi dan teknologi itu harus dimanfaatkan untuk meningkatkan kepedulian bagi golongan yang lemah dan tidak kehilangan budaya yang dimiliki akibat adanya tranformasi informasi dan teknologi.

4. Menciptakan persaingan yang sehat
Persaingan dalam dunia bisnis perlu untuk meningkatkan efisiensi dan kualitas, tetapi persaingan tersebut tidak mematikan yang lemah, dan sebaliknya, harus terdapat jalinan yang erat antara pelaku bisnis besar dan golongan menengah kebawah, sehingga dengan perkembangannya perusahaan besar mampu memberikan spread effect terhadap perkembangan sekitarnya. Untuk itu dalam menciptakan persaingan perlu ada kekuatan-kekuatan yang seimbang dalam dunia bisnis tersebut.

5. Menerapkan konsep “pembangunan berkelanjutan"
Dunia bisnis seharusnya tidak memikirkan keuntungan hanya pada saat sekarang, tetapi perlu memikirkan bagaimana dengan keadaan dimasa mendatang. Berdasarkan ini jelas pelaku bisnis dituntut tidak meng-"ekspoitasi" lingkungan dan keadaan saat sekarang semaksimal mungkin tanpa mempertimbangkan lingkungan dan keadaan dimasa datang walaupun saat sekarang merupakan kesempatan untuk memperoleh keuntungan besar.

6. Menghindari sifat 5K (Katabelece, Kongkalikong, Koneksi, Kolusi dan Komisi)
Jika pelaku bisnis sudah mampu menghindari sikap seperti ini, kita yakin tidak akan terjadi lagi apa yang dinamakan dengan korupsi, manipulasi dan segala bentuk permainan curang dalam dunia bisnis ataupun berbagai kasus yang mencemarkan nama bangsa dan negara.

7. Mampu menyatakan yang benar itu benar
Artinya, kalau pelaku bisnis itu memang tidak wajar untuk menerima kredit (sebagai contoh) karena persyaratan tidak bisa dipenuhi, jangan menggunakan "katabelece" dari "koneksi" serta melakukan "kongkalikong" dengan data yang salah. Juga jangan memaksa diri untuk mengadakan “kolusi" serta memberikan "komisi" kepada pihak yang terkait.
8. Menumbuhkan sikap saling percaya antara golongan pengusaha kuat dan golongan pengusaha kebawah
Untuk menciptakan kondisi bisnis yang "kondusif" harus ada saling percaya (trust) antara golongan pengusaha kuat dengan golongan pengusaha lemah agar pengusaha lemah mampu berkembang bersama dengan pengusaha lainnya yang sudah besar dan mapan. Yang selama ini kepercayaan itu hanya ada antara pihak golongan kuat, saat sekarang sudah waktunya memberikan kesempatan kepada pihak menengah untuk berkembang dan berkiprah dalam dunia bisnis.

9. Konsekuen dan konsisten dengan aturan main yang telah disepakati bersama
Semua konsep etika bisnis yang telah ditentukan tidak akan dapat terlaksana apabila setiap orang tidak mau konsekuen dan konsisten dengan etika tersebut. Mengapa? Seandainya semua ketika bisnis telah disepakati, sementara ada "oknum", baik pengusaha sendiri maupun pihak yang lain mencoba untuk melakukan "kecurangan" demi kepentingan pribadi, jelas semua konsep etika bisnis itu akan "gugur" satu semi satu.

10. Menumbuhkembangkan kesadaran dan rasa memiliki terhadap apa yang telah disepakati
Jika etika ini telah memiliki oleh semua pihak, jelas semua memberikan suatu ketentraman dan kenyamanan dalam berbisnis.

11. Perlu adanya sebagian etika bisnis yang dituangkan dalam suatu hukum positif yang berupa peraturan perundang-undangan
Hal ini untuk menjamin kepastian hukum dari etika bisnis tersebut, seperti "proteksi" terhadap pengusaha lemah.























Anda melihat esensi aplikasi Total Quality Management yang mengedepankan custumer satisfaction (uraikan berdasarkan analisa terhadap suatu perusahaan yang berorientasi jasa di satu sisi, dan orientasi manufaktur di sisi lainnya

TQM adalah pendekatan manajemen pada suatu organisasi, berfokus pada kualitas dan didasarkan atas partisipasi dari keseluruhan sumber daya manusia dan ditujukan pada kesuksesan jangka panjang melalui kepuasan pelanggan dan memberikan manfaat pada anggota organisasi (sumber daya manusianya) dan masyarakat
TQM juga diterjemahkan sebagai pendekatan berorientasi pelanggan yang memperkenalkan perubahan manajemen yang sistematik dan perbaikan terus
menerus terhadap proses, produk, dan pelayanan suatu organisasi. Proses TQM memiliki input yang spesifik (keinginan, kebutuhan, dan harapan pelanggan), mentransformasi (memproses) input dalam organisasi untuk memproduksi barang atau jasa yang pada gilirannya memberikan kepuasan kepada pelanggan (output).
Tujuan utama Total Quality Management adalah perbaikan mutu pelayanan secara terus-menerus. Dengan demikian, juga Quality Management sendiri yang harus dilaksanakan secara terus-menerus. Sejak tahun 1950-an pola pikir mengenai mutu terpadu atau TQM sudah muncul di daratan Amerika dan Jepang dan akhirnya Koji Kobayashi, salah satu CEO of NEC, diklaim sebagai orang pertama yang mempopulerkan TQM, yang dia lakukan pada saat memberikan pidato pada pemberian penghargaan Deming prize di tahun 1974 (Deming prize, established in December 1950 in honor of W. Edwards Deming, was originally designed to reward Japanese companies for major advances in quality improvement. Over the years it has grown, under the guidance of Japanese Union of Scientists and Engineers (JUSE) to where it is now also available to non-Japanese companies, albeit usually operating in Japan, and also to individuals recognised as having made major contributions to the advancement of quality.)
Banyak perusahaan Jepang yang memperoleh sukses global karena memasarkan produk yang sangat bermutu. Perusahaan/organisasi yang ingin mengikuti perlombaan/ bersaing untuk meraih laba/manfaat tidak ada jalan lain kecuali harus menerapkan Total Quality Management. Philip Kolter (1994) mengatakan “Quality is our best assurance of custemer allegiance, our strongest defence against foreign competition and the only path to sustair growth and earnings”.ISSN 1410-4628 BULETIN STUDI EKONOMI Volume 13 Nomor 1 Tahun 2008
Di Jepang, TQM dirangkum menjadi empat langkah, yaitu sebagai berikut.
- Kaizen: difokuskan pada improvisasi proses berkelanjutan (continuous Improvement) sehingga proses yang terjadi pada organisasi menjadi visible (dapat dilihat), repeatable (dapat dilakukan secara berulang-ulang), dan measurable (dapat diukur).
- Atarimae Hinshitsu: berfokus pada efek intangible pada proses dan optimisasi dari efek tersebut.
- Kansei: meneliti cara penggunaan produk oleh konsumen untuk peningkatan kualitas produk itu sendiri.
- Miryokuteki Hinshitsu: manajemen taktis yang digunakan dalam produk yang siap untuk diperdagangkan.
Penerapan Total Quality Management dipermudah oleh beberapa piranti, yang sering disebut “alat TQM”. Alat-alat ini membantu kita menganalisis dan mengerti masalah-masalah serta membantu membuat perencanaan.
Delapan alat TQM yang diuraikan adalah sebagai berikut.

1. Curah pendapat (sumbang saran) - Brainstorming
Curah pendapat adalah alat perencanaan yang dapat digunakan untuk mengembangkan kreativitas kelompok. Curah pendapat dipakai, antara lain untuk menentukan sebab-sebab yang mungkin dari suatu masalah atau merencanakan langkah-langkah suatu proyek.

2. Diagram alur (bagan arus proses)
Bagan arus proses adalah satu alat perencanaan dan analisis yang digunakan, antara lain untuk menyusun gambar proses tahap demi tahap untuk tujuan analisis, diskusi, atau komunikasi dan menemukan wilayah-wilayah perbaikan dalam proses.

3. Analisis SWOT
Analisis SWOT adalah suatu alat analisis yang digunakan untuk menganalisis masalah-masalah dengan kerangka Strengths (kekuatan), Weaknesses (kelemahan), Opportunities (peluang), dan Threats (ancaman).

4. Ranking preferensi
Alat ini merupakan suatu alat interpretasi yang dapat digunakan untuk memilih gagasan dan pemecahan masalah di antara beberapa alternatif.
5. Analisis tulang ikan
Analisis tulang ikan (juga dikenal sebagai diagram sebab-akibat) merupakan alat analisis, antara lain untuk mengkategorikan berbagai sebab potensial dari suatu masalah dan menganalisis apa yang sesungguhnya terjadi dalam suatu proses.

6. Penilaian kritis
Penilaian kritis adalah alat bantu analisis yang dapat digunakan untuk memeriksa setiap proses manufaktur, perakitan, atau jasa. Alat ini membantu
kita untuk memikirkan apakah proses itu memang dibutuhkan, tepat, dan apakah ada alternatif yang lebih baik.

7. Benchmarking
Benchmarking adalah proses pengumpulan dan analisis data dari organisasi kita dan dibandingkan dengan keadaan di dalam organisasi lain. Hasil dari proses ini akan menjadi patokan untuk memperbaiki organisasi kita secara terus menerus. Tujuan benchmarking adalah bagaimana organisasi kita bisa dikembangkan sehingga menjadi yang terbaik.

8. Diagram analisa medan daya (bidang kekuatan)
Diagram medan daya merupakan suatu alat analisis yang dapat digunakan, antara lain untuk mengidentifikasi berbagai kendala dalam mencapai suatu sasaran dan mengidentifikasi berbagai sebab yang mungkin serta pemecahan dari suatu masalah atau peluang.


Aspek apa saja yang perlu dikedepankan oleh pelaku bisnis dalam upaya meraih sekaligus meningkatkan competitive advantage ketika memutuskan memasuki pasar internasional

Perusahaan apa pun yang ingin sukses dalam bisnisnya akan selalu melakukan penilaian dan memformulasi suatu strategi baru untuk memenuhi kebutuhan pelanggan dalam berbagai cara efektif. Untuk itu semua karyawan harus diberi tahu tentang misi strategi bisnis baru perusahaan seperti dalam hal berbagai isu bisnis, perencanaan strategis, tujuan dan kinerja yang ingin dicapai. Berikut contohnya dimana perusahaan harus membuat beragam unsur keunggulan kompetitf (Competitive Advantage) yang meliputi rancangan keorganisasian; penyusunan kepegawaian; karyawan dan pengembangan keorganisasian; manjemen kinerja; sistem imbalan, benefit dan compliance; komunikasi dan hubungan masyarakat.

Rancangan Keorganisasian
 Perusahaan harus memformulasi bagaimana suatu pekerjaan diselesaikan berdasarkan prosedur pelaksanaan standar, garis hirarki, peraturan, ketentuan dan uraian kerja terinci.
 Tiap unit yang berbeda harus memelihara independensi dan daya tanggap terhadap posisi pasar yang unik dan antaraunit harus mampu berkoordinasi secata terpadu melalui tim koordinasi dan organisasi matriks dsb.
 Membuat Rancangan Pekerjaan agar tiap karyawan mengetahui jenis tugas, wewenang dan tanggung jawabnya
 Proses penentuan dimensi struktur organisasi seperti bagaimana proses pengambilan keputusan, bagaimana akuntabilitas didistribusikan, bagaimana peran dan tanggungjawab diuraikan

Penyusunan Kepegawaian
 Kriteria penentuan seleksi karyawan baru seperti jangka waktu kerja (jangka pendek atau panjang), paruh waktu vs penuh waktu, kontrak atau sewa, fokus pekerjaan atau karir, dan prespektif pelanggan
 Prosedur perekrutan dan penseleksian serta pensosialisasian karyawan baru seperti orientasi, sosialisasi dan mentor
 Merancang alur karir karyawan dalam satu fungsi ataukah beragam fungsi
 Proses perencanaan suksesi
 Program untuk karyawan yang akan berhenti

Karyawan dan Pengembangan Keorganisasian
 Hasil pengembangan yang diharapkan seperti pemahaman konseptual, peningkatan ketrampilan, perubahan sikap, pengembangan tim, dan pengambilan keputusan
 Bentuk-bentuk partisipasi dalam program pengembangan seperti karyawan baru, penyelia, manajer dan manajemen puncak
 Penilaian program pelatihan seperti model kurikulum, fasilitas, keberhasilan
 Pilihan beragam jenis pengembangan untuk menciptakan kompetensi perusahaan seperti perencanaan dan pengembangan karir dan tugas-tugas khusus.
Manajemen Kinerja
 Bentuk-bentuk standar kinerja karyawan atau unit dapat berupa fokus pada perilaku ataukah fokus pada hasil, jangka pendek ataukah jangka panjang, eksplisit ataukah implisit, terkait pada individu ataukah pada kinerja strategik atau perencanaan
 Bentuk-bentuk telaahan umpan balik kinerja untuk perecanaan, manajemen kinerja, sistem pelaporan, dan akuntabilitas
 Proses umpanbalik yang bersinambung
 Tersedianya sumber data untuk pengukuran dan pengembangan kriteria seperti bagi klien, pelanggan, dan subordinasi

Sistem Imbalan, Manfaat danPenghargaan
 Jenis-jenis insentif yang ada seperti jangka pendek ataukah jangka panjang, berdasarkan kinerja ataukah senioritas
 Keterkaitan sistem imbalan dengan rencana strategis perusahaan dan mendorong karyawan untuk bekerja sesuai standar kerja dalam memenuhi kebutuhan pelanggan
 Perumusan sistem imbalan berdasarkan kinerja individu atau kelompok atau perusahaan
 Strutktur imbalan non-finansial seperti program pengakuan / penghargaan, simbol status informal

Komunikasi dan Hubungan Masyarakat
 Jenis informasi untuk karyawan, bentuk penyajiannya seperti rahasia atau bersifat terbuka
 Jenis saluran komunikasi, diseminasi informasi ke dalam dan ke luar perusahaan, survei opini, kebijakan pintu terbuka
 Rancangan program komunikasi seperti pertemuan dengan publik, forum diskusi, video, buletin.
























Referensi
• N.Nuryesrnan M, Moral dan Etika Dalam Dunia Bisnis, Bank dan Manajemen, Mei/Juni 1996.
• Purba Victor, Hukum Bisnis Dalam Kegiatan Bisnis Para Manajer, Manajemen, 1993.
• Dunia Bisnis, Warta Ekonomi, No. 29, Desember 1994.
• e-USU
• www.quickmba.com/strategy/competitive-advantage
• http://ronawajah.wordpress.com/2007/06/24/msdm-dan-keunggulan-kompetitif/

Tugas Manajemen Pemasaran

Salah satu mata kuliah yang diberikan di Sekolah Tinggi Manajemen IMNI adalah Manajemen Pemasaran (Marketing Management) yang mempelajari bagaimana dan apa yang dimaksud dengan tindakan Pemasaran. Dalam kehidupan sehari-hari kita tidak pernah dapat menghindari diri dari berbagai iklan yang secara langsung atau tidak langsung akan menghampiri dan lewat di depan mata kita, dibaca atau tidak, didengar atau tidak disengaja atau tidak berbagai macam iklan selalu menjadi bagian dari kehidupan kita. Kehebatan para pembuat iklanlah yang membuat imajinasi kita dapat menangkap walau selintas iklan apa yang nampak didepan mata kita walau hanya sekelebatan saja. Ada berbagai jurus yang digunakan oleh para perancang iklan agar kita tetap tahu bahwa produk tersebut adalah produk cipataannya yang sedang dipasarkan, mulai dari warna, bentuk hingga idiom-idiom atau istilah-istilah yang mudah dicerna, walau terkadang idiom tersebut jauh menyalahi kaidah bahasa Indonesia yang baik dan benar.
Kita dapat menilai bahwa tidak selamanya bentuk iklan dapat memberikan dampak yang baik, sebab kreativitas dalam membuat iklan tidak terbatas dengan hanya adanya aturan atau kaidah yang berlaku, bagi pembuat iklan aturan yang berlaku adalah “tidak ada aturan bagi pembuatan iklan” inilah sisi yang perlu kita wasapadai, mengapa seolah mereka mau melanggar norma, aturan atau adat yang berlaku? Itu disebabkan hanya agar iklan yang mereka buat dan mereka kemas mudah diingat orang dan dengan demikian maka orang akan dengan mudah mengenal jenis produk yang sedang mereka pasarkan.
Kaidah yang berlaku di masyarakat sering kali mereka langgar, apalagi yang berkaitan dengan tata bahasa atau penggunaan ejaan yang baik dan benar, sebab semakin lama ada tayangan iklan yang aneh, semakin lama pula orang dapat mengingat produk yang sedang disampaikannya melalui iklan tersebut. Inilah dunia nyata periklanan dewasa ini, terkadang kita tidak dapat melihat tautan (hubungan) antara bentuk tampilan iklan dengan produk yang ingin mereka pasarkan, bentuk iklan yang aneh ini dibuat agar para pemerhati lebih mudah mengingat tayangan yang mereka ciptakan, dengan tujuan akhir.. pemasaran yang sukses!

Ketika suatu waktu kita terheyak dengan slogan salah satu iklan koyo tempel yang mengatakan bahwa “jaman saiki nggak ada jin….” , kontan seluruh umat muslim memperbincangkan dan mengutuk iklan tersebut, yang pada akhirnya iklan itu tetap ditayangkan dengan perubahan yang lebih kena dengan norma masyarakat muslim, yang mempercayai bahwa Allah telah menciptakan jin dan manusia.
Advertising memang menuntut suatu kreativitas yang tinggi, dimana para pemerhati digiring untuk lebih mengenal produk yang sedang ditawarkan. Sekali lagi terkadang pembuat iklan menciptakan kata-kata yang seolah tanpa makna, namun itulah yang dicobakan hingga masyaraka mengetahui bahwa idiom itu milik mereka, coba kita perhatikan idiom ini; “Bukan Basa Basi”, “Enjoy Aja….”, “Sama Sempurnanya…”, “Sejati, emang bikin bangga…”, “Kesempurnaan Tiada Tara..”, “Nggak ada lu nggak Rame”, dan lain-lain yang sejenis, maka kita langsung tahu bahwa itu adalah idiom-idiom yang dihasilkan dari para pencipta kelompok iklan rokok, yang selalu tayang dalam setiap kesempatan jeda suatu acara di stasiun-stasiun televisi manapun. Bagaimana kita tidak ingat bila kita setiap menit dijejali idiom-idiom yang berkonotasi iklan tersebut. Inilah kehebatan advertising dimana setiap orang akan langsung mengetahui jenis rokok apa yang sedang ditawarkan.
Kita ingat ketika pada era tahun 80-an ada sebuah iklan minuman beralkohol yang menggunakan idiom “Bung!”, dengan lagu yang diciptakannya berbunyi; “Selamat Bung!, atas keberhasilanmu, Selamat Bung!, Anda layak dapat …….Bintang!”, Bintang yang berkonotasi ganda, dimana konotasi pertama adalah Anda layak sebuah mendapat “Bintang Penghargaan”, dan konotasi kedua adalah Anda layak mendapat minuman beralkohol dengan nama… Bintang!. Pembuat iklan ini kemudian langsung berkomentar, bahwa kata Bung! mengingatkan dan membangkitkan kembali masa kejayaan perjuangan para Founding Father, seperti juga Khairil Anwar menggunakan kata Bung! dalam sajaknya yang berbunyi “Mari Bung Rebut Kembali….”, padahal pasca kemerdekaan Khairil Anwar berceritera bahwa kata Bung! itu diambil dari kebiasaan para Perempuan Nakal (PSK) yang mangkal di seputaran Binaria dan Muara Angke yang menawarkan diri dengan kata ajakan… ”Mari…….Bung!......”.
Advertising adalah salah satu alat dalam Marketing, sedang Marketing menurut Tung Desem Waringin adalah; “ ……Menukarkan nilai tambah yang ada ke sebanyak mungkin Pembeli, sesering mungkin, sehingga pembeli untung, serta Penjualpun Untung….” (Tung, 3:2008). Sejalan dengan itu Mark Joyner mengatakan bahwa “Pokok yang paling penting dalam Bisnis bukan kantor, bukan Mr. Hi Tech, bahkan bukan produk atau jasa, Melaikan penawaran. Bisnis belum ada sebelum ada penawaran.

Ketika orang menerima penawaran, orang biasanya akan bertanya kepada dirinya sendiri:
1. Apa yang Anda tawarkan?
2. Berapa harganya?
3. Apa benefit untuk saya? Varian dari pertanyaan ini adalah:
a. “Apakah Kenikmatan yang ditawarkan lebih besar daripada kesengsaraan yang harus diberikan?”
b. “Apakah nilai yang didapatkan lebih besar dari nilai yang harus dibayarkan?”
c. “Apakah Perceived Value yang ditawarkan lebih besar daripada resiko yang harus dijalani?”
d. “Apakah Return On Investment (ROI atau laba yang dihasilkan dari investasi) lebih besar daripada Uang yang harus dibayarkan?”
4. Kenapa saya harus percaya kepada Anda?
5. Kenapa saya harus beli sekarang?

Orang biasanya selalu menimbang antara positif dan negatif. Bila kenikmatan/positifnya lebih besar dibanding negatifnya/resikonya atau bahkan resikonya menjadi nol (0) maka kemungkinan membeli akan lebih tinggi!. Dengan bekal ini Penawaran yang sangat menarik dan bisa dipercaya dibuat dengan :

1. Meningkatkan kenikmatan / Perceived Value / ROI / atau hal-hal yang positif.
2. Mengurangi atau meniadakan keberatan/ kesengsaraan/ resiko / hal-hal yang bersifat negativ.











Saat ini penulis mempunyai sebuah bisnis sampingan yang bergerak dibidang pembuatan ID CARD untuk kegunaan multifungsi, baik berlaku sebagai kartu anggota, kartu identitas atau fungsi yang lain seperti kartu perpustakaan dan kartu diskon. Pada awalnya penulis merasa berat dalam cara pemasaran produk tersebut, namun setelah mengikuti mata kuliah Manajemen Pemasaran dari Bapak Taufik Alwi, penulis merasa mempunyai banyak peluang dalam memasarkan serta mempromosikan produk sederhana tersebut. Keinginan untuk menambah jumlah pengguna produk dipicu oleh sebuah buku yang berjudul Marketing Revolution dari Tung Desem Waringin (Gramedia, Juli 2008) yang memandang manajemen pemasaran adalah ilmu yang terbuka utuk siapa saja yang mau praktek dan berkecimpung serta mau mempraktekan jurus-jurus aneh yang ada di dalamnya.
Sebagai bahan pembuatan tugas akhir semester pertama dari mata kuliah Manajemen Pemasaran, penulis akan memaparkan bagaimana mengaplikasikan ilmu terapan yang telah penulis dapatkan selama mengikuti perkuliahan di Sekolah Tinggi Manajemen IMNI Jakarta. Tentu saja pemaparan ini disesuaikan dengan keadaan yang ada di lapangan selama penulis menjadi praktisi dan pengguna ilmu terapan ini. Untuk memudahkan penulis akan membagi paparan dalam beberapa bahasan sederhana.

1. TUJUAN
Menurut Tung Desem Waringin (6:2008) untuk terjadi penjualan yang berkesinambungan pasti syaratnya adalah baik pembeli maupun penjual sama-sama untung. Andaikan hanya penjual yang untung, namun pembeli merasa rugi, maka si pembeli akan merasa kapok dan tidak akan membeli produk tersebut di masa yang akan datang. Sedang bila hanya si pembeli yang merasa untung, sementara penjual merugi, maka penjualpun makin lama tidak akan dapat lagi menjual produknya dikarenakan terus merugi.
Untuk itulah penulis mencoba memasarkan produk yang berupa ID Card dengan cara sama-sama untung, baik penjual maupun pembeli. Secara teknis dapat penulis paparkan sebagai berikut :
a. Untuk memproduksi sebuah ID Card, penulis membutuhkan modal dasar untuk bahan ID Card sebesar Rp. 500,- dengan harga jual sebesar Rp. 3.500,- yang berarti dari sisi keutungan kotor, penulis memperoleh keutungan sebesar 700% atau 7 kali lipat.
b. Sementara pembeli akan memasarkan ID Card tersebut dengan harga yag lebih tinggi, yaitu Rp. 5.000,- yang berarti pembeli akan mendapatkan untung bersih sebesar Rp. 1.500,- per ID Card.
c. Dengan harga jual akhir sebesar Rp. 5.000,- maka dari sebuah ID Card akan mendapatkan keuntungan kotor 1000% atau sepuluh kali lipat dari harga bahan dasar, dari harga tersebut penulis mendapat untung sebesar 700% serta pembeli akan mendapat untung sebesar 300% dari sebuah ID Card yang akan dijualnya kembali.
d. Dengan proses sederhana seperti itu, maka akan jarang pihak-pihak yang penulis hubungi menolak untuk membeli produk yang dipasar-kan, terkecuali dengan berbagai alasan yang lebih dapat diterima seperti misalnya sekolah swasta yang menolak pembuatan ID Card dikarenakan Yayasan sudah mempercayakan pembuatannya kepada pihak lain, dan itupun akhirnya mereka sadari bahwa harga yang dikenakan jauh lebih mahal, sebab para pembuat ID Card di Bandung rata-rata menawarkan produknya dengan harga berkisar dari Rp. 5000,- hingga Rp. 7.500.- bahkan ada pengusaha lain yang mematok harga sebesar Rp. 10.000,- per buah.
e. Pihak perusahaan atau sekolah yang dihubungi akan merasa diuntungkan dengan proses pembuatan ID Card melalui penulis dengan asumsi mereka akan mengantungi keuntungan minimal sebesar Rp. 1.500,- bila harga jual ke siswa atau karyawannya sebesar Rp. 5.000,- bahkan ada perusahaan konveksi di Majalaya yang mengenakan harga kepada karyawannya sebesar Rp. 25.000,- dengan cara dipotong dari salary yang didapat karyawannya.
f. Hingga saat ini daya saing produk tersebut utuk wilayah Bandung Selatan masih dipegang oleh penulis dalam kurun waktu mulai bulan Mei 2007 hingga sekarang belum ada yang mau menyaingi harga yang ditawarkan oleh penulis, bahkan beberapa sekolah menjadi langganan baru setelah mereka mengetahui bahwa selama ini harga yang ditawarkan oleh pihak lain lebih mahal.

2. SASARAN
Penulis selaku pemegang kebijakan dalam bidang produksi perlu menetapkan sasaran/ objek penjualan untuk memasarkan produknya. Dalam menetapkan sararan, penulis membagi objek penjualan dalam beberapa kategori, diantaranya adalah :

a. ID Card sebagai Identitas
Biasanya yang menjadi sasaran untuk segmen ini adalah Sekolah, Kantor atau perusahaan yang banyak bertebaran di setiap wilayah Kabupaten Bandung. Untuk sekolah kami menghubungi Kepala Sekolah atau Pembantu Kepala Sekolah (PKS) Bidang Kesiswaan, tentu saja dengan iming-iming harga lebih murah dan kualitas lebih baik dibanding produk lain yang ada di pasaran.



b. ID Card sebagai Suatu Kebanggaan
Untuk segmen ini penulis membidik beberapa organisasi baik yang ada di lingkungan sekolah seperti anggota wahana suatu kegiatan ekstra kurikuler atau club intra kurikuler siswa di sekolah tersebut. Sedang untuk di luar sekolah penulis membidik organisasi-organisasi pemuda, seperti klub motor, geng anak muda, Warung Internet, Distro (Factory Outlet) atau Taman Bacaan Masyarakat atau kelompok organisasi massa seperti Partai Politik,

c. ID Card sebagai kartu diskon
Segmen ini paling banyak mendapat tantangan, sebab penulis dalam memasarkan produk ini harus berargumentasi dahulu apabila
Sebuah toko yang belum mempunyai program diskon, maka akan melalui proses sharing pendapat apa untung ruginya bila membuat kartu diskon bagi para pelanggannya. Namun Alhamdulillah dari sekian banyak toko yang didatangi ternyata toko buku yang merangkap penjual jasa foto copy banyak tertarik menggunakan produk ini. Ini diasumsikan sebagai suatu Self Protect ketika toko tersebut akan menaikkan harga jasa foto copy sehubungan dengan naiknya harga kertas sebagai bahan baku foto copy. Dengan menggunakan kartu diskon para pelanggan tidak berkeberatan ketika toko tersebut menaikkan harga foto copy dari Rp. 100,- menjadi Rp. 125,- per lembar sebab para pemegang kartu diskon tetap mendapatkan potongan sebanyak yang ditentukan (rata-rata mendapat potongan harga sebesar 10%). Demikian pula dengan toko obat yang penulis tantang untuk membuat kartu diskon bagi pelanggannya, Alhamdulillah omzetnya naik hingga 200% dalam bulan pertama.
Perlu diketahui bahwa kedua jenis toko tersebut tidak dirugikan dengan memberikan diskon sebesar 10% pada tiap transaksi, sebab untuk membuat kartu diskon dikenakan biaya sebesar Rp. 50.000,- dan dari akumulasi jumlah anggotanya berkisar antara 100 hingga 500 orang, maka toko tersebut sudah mengantungi keuntungan dari pembuatan kartu lebih dari Rp. 5.000.000,- untuk masa berlaku selama satu tahun. Dengan demikian terjadi proses saling menguntungkan antara penulis, toko dan para pelanggan.

d. ID Card sebagai Tanda (Make a Sign)
Segmen ini penulis gunakan pada momen seperti Hari Ulang Tahun kemerdekaan Republik Indonesia yang ke 36, dimana setiap Rukun Warga dan lingkungan Perumahan mengadakan kegiatan tujuh belasan dengan melibatkan panitia. Panitia inilah yang menjadi sasaran bidik pemasaran ID Card yang ditawarkan dalam bentuk produk sebagai kartu Panitia. Dapat dibayangkan seluruh warga Negara Republik Indonesia mengadakan kegiatan tujuh belasan, dan pada bulan agustus hari-hari penulis menjadi hari yang panjang dengan menggunakan siang hari untuk menawarkan produk, dan malam hari membuat produk untuk disampaikan pada hari berikut-nya. Segmen lain yang penulis bidik adalah pasar, pertokoan dan tempat parkir umum yang memerlukan katu tanda parkir, walau dari segmen ini penulis dapat dikatakan kurang berhasil, sebab biasanya di tempat parkir umum mereka menggunakan karcis parkir dari Dinas Pendapatan Daerah (Dispenda), kecuali pertokoan yang besar yang menggunakan jasa parkir profesional

3. PENJAGAAN /PENINGKATAN MUTU PRODUK
Langkah selanjutnya adalah bagai mana proses menjaga dan meningkatkan mut produk sehingga tetap dapat bersaing dengan produk sejenis tanpa harus kehilangan pelanggan yan sudah merasa puas. Sebab Satisfaction adalah tujuan akhir dari ilmu pemasaran produk. Untuk itu diperlukan beberapa cara untuk mencapainya, yaitu

a. Unggul dalam Kualitas Produk
Untuk mencapai keunggulan kualitas produk, maka penulis tetap menjaga kualitas barang yang dihasilkan dengan jalan membeli bahan ID Card yang bermutu dengan ketebalan minimal 1,5 mm dan gramasi yang berstandar ISO 2000. Ada banyak bahan sejenis yang dijual di pasaran, akan tetapi yang mempunyai kualitas yang diingin-kan hanya sedikit dan itu hanya bias didapat setelah melalui survey langsung serta mengadakan perbandingan diantara beberapa took yang menjual bahan sejenis.
Selain ketebalan juga kebeningan (brightening) bahan yang juga menjadi bahan pertimbangan sebagai produk unggulan yang mampu bersaing dengan produk sejenis yang ada di pasaran, sebab para konsumen pasti menginginkan produk terbaik yang akan didapatnya, oleh karena itu setelah penulis menemukan penjual bahan ID Card yang bermutu, walau harganya lebih mahal sedikit dibanding yang lain penulis tetap membelinya di penjual yang sama dengan merek yang sama pula.

b. Unggul dalam Penampilan
Yang dimaksud dengan unggul dalam penampilan adalah berkaita dengan setting bentuk dan tata warna yang ditawarkan, sebab para pembeli hanya menyediakan logo saja, sementara tata letak dan pewarnaan sepenuhnya diserahkan kepada penulis selaku produsen setelah melalui beberapa kali konsultasi biasanya baru disetujui utuk
sebuah rancangan yang diinginkan konsumen. Tentu saja untuk membuat rancangan (setting) penulis tidak hanya membuat satu atau dua rancangan saja tetapi minimal lima rancangan dengan tata warna yang berbeda, dengan sendirinya adalah hak kosumen untuk menentukan mana yang menurutnya dapat memenuhi kriteria yang diinginkannya. Disamping itu pula penulis selalu mencoba untuk membuat disain berdasarkan makna yang terkandung dalam logo yang diberikan oleh konsumen, sehingga penjiwaan tata warna mencerminkan spirit dan semangat instansi konsumen.

c. Unggul dalam Penawaran
Seperti yang elah diterangkan di bagian terdahulu, bahwa aspek penawaran merupakan ujung tombak dari pemasaran, demikian pula dengan produk yang penulis pasarkan, melalui penawaran yang intensif kepada semua pihak dengan melalui brosur sederhana tetapi menjanjian kepuasan pelanggan, Alhamdulillah tidak terlalu banyak yang harus dijelaskan manakala konsumen menghubungi penulis untuk membuat appointment pada waktu yang telah disepakati. Dengan brosur penawaran yang jelas, maka penulis tidak perlu banyak membuat promosi dan presentasi pada para konsumen, selain harga yang mampu bersaing dengan produk sejenis karya orang lain. Dalam segi penawaran penulis selalu mencobakan jurus Revolution Marketing-nya Tung Desem Waringin yang saling memberikan keuntungan bagi semua pihak.

d. Unggul dalam After Sales Service
Produk sederhana yang penulis pasarkan tidak terlepas dari segi complain yang datang dari konsumen, biasanya hal ini terjadi karena kesalahan cetak nama, tertukar foto, atau salah dalam tanggal lahir atau alamat. Sebagai konsekwensi logis dari seorang pedagang, maka penulispun memberikan layanan After Sales Service kepada para pelanggan. Dengan demikian faktor saling menguntungkan tetap berlaku untuk memperpanjang, menumbuhkan, memberikan dan mengembangkan kepercayaan kepada para pelanggan.
Jurus After Sales Service ini terbukti mampu meningkatkan omzet penjualan produk yang penulis pasarkan. Seperti biasa, jurus ini menjadi jurus andalan dalam perluasan segmentasi pemasaran, sebab para pelanggan akan berceritera bahwa produk yang penulis pasarkan memberikan layanan purna jual yang memuaskan.

e. Unggul dalam Pemasaran
Setelah semua jurus marketing dilaksanakan, maka hal yang paling dirasa berat adalah bagaimana agar produk ini tetap terpasarkan dan tidak terganggu oleh limit waktu atau momen sesaat, seperti misalnya pembuatan kartu pelajar hanya berlaku pada tahun ajaran baru saja dengan limit waktu berlaku satu tahun, maka untuk mengisi waktu-waktu selain momen tersebut penulis berupaya tetap menjaga hubungan dengan pihak sekolah, sambil menawarkan kartu anggota bagi pelajar yag mengikuti berbagai kegiatan ekstra kurikuler, seperti Pencinta alam sekolah, remaja mesjid sekolah, kelompok paduan suara, anggota marching band, dan lain-lain, sehingga dari satu sekolah penulis tetap mempunyai order untuk digarap selain pembuatan kartu pelajar.
Demikian pula dengan perusahaan lain yang mempercayakan pembuatan ID Card-nya kepada penulis, maka penulis tetap menawarkan kartu anggota bagi karyawan baru, atau jika jumlahnya dibawah 20 buah, maka pembuatan kartu tersebut tidak dipungut bayaran alias gratis!. Hal ini ternyata efektif, dalam kurun waktu satu tahun selalu saja ada pergantian jabatan dan penerimaan karyawan baru yang masing-masing membutuhkan ID Card yang baru pula.

Dari langkah-langkah di atas, penulis sadar bahwa mata kuliah Manajemen Pemasaran dapat lebih membuka mata penulis untuk mencari dan menciptakan peluang bisnis. Sebab dari peluang yang ada ternyata kita pun mendapatkan peluang lain yang lebih besar dan lebih menantang. Seperti misalnya perusahaan ekspedisi barang TIKI cabang Bandung, Purwakarta, Subang dan Sumedang yang membuat ID Card nya dari penulis, membutuhkan suatu kegiatan positif dalam rangka ulang tahunnya yang ke 36, maka penulis menawarkan untuk menyelenggarakan kegiatan Out Bound selama dua hari dan penulis bertindak sebagai event organizer-nya, Alhamdulillah dapat dilaksanakan pada tanggal 16 dan 17 Agustus 2008 di Villa Istana Bunga – Lembang.

Tantangan berikutnya adalah bagaimana agar pemasaran yang dilakukan dapat berdaya guna dan berhasil guna atau efektif dan effisien, sehingga produk yang dihasikan tetap mempuyai pangsa pasar yang luas serta bila memungkinkan lebih diperluas lagi melalui jaringan yang telah direncanakan serta diciptakan oleh penulis sebagai manajer utama. Ada beberapa rencana yang penulis laksanakan, namun diantara rencana-rencana tersebut ada juga yang bias dan jauh dari perkiraan, sehingga harus dievaluasi kembali untuk waktu yang akan datang. Langkah-langkah tersebut antara lain :

1. Membuat Brosur
Penulis membuat sebuah brosur yang sederhana tetapi terlihat mewah dan eksklusif, hanya dengan menggunakan hasli print out dari komputer, serta dimasukkan ke dalam amplop kabinet yang berlogokan produk perusahaan penulis, serta hasil print out tadi dilaminating menggunakan plastik laminating murah tetapi menghasilakn efek glossy, seolah dibuat di perusahaan percetakan yang besar. Maka brosur tersebut penulis bagikan kepada beberapa lembaga-lembaga atau instasi-instasi baik milik pemerintah maupun swasta. Kendala yang ada adalah terkadang sasaran pengiriman brosur ini tidak tepat, misalnya penulis tujukan untuk direktur perusahaan, ternyata yang berwenang memutuskan adalah dewan direksi dan biasanya memerlukan waktu yang cukup lama untuk ditindaklanjuti, setelah sekian lama proses tindak lanjut berjalan ternyata dewan direksi tidak menyetujui pembuatan ID Card yang baru. Namun hal ini menjadi pembelajaran positif bagi penulis.

2. Mencantumkan Nomor Telefon
Jurus ini merupakan jurus umum dalam pemasaran, nomor telefon yang jelas baik rumah atau hand phone, ini dimaksudkan agar para calon konsumen mengetahui dengan jelas harus mengubungi siapa bila dia berminat terhadap produk yang akan dipasarkan. Pencantuman nomor telefon pada brosur tidak hanya pada satu halaman, tetapi pada setiap halaman agar orang dapat melihat nomor kontak yang dapat dihubungi.


3. Mencantumkan Alamat e-mail
Mencatumkan alamat e-mail ternyata bukan hanya memberikan kemudahan bagi penulis dalam melihat penawaran atau konsultasi yang berkenaan dengan produk yang dibuat, namun juga dapat menunjukkan tingkat prestise yang dimiliki oleh produsen.
e-mail yang dimiliki haruslah menempel pada ISP yang handal, seperti Google atau Yahoo!, walau kenyataannya ISP yang lain banyak yang acceptable seperti Angelfire atau MSN, namun dua nama di depan sudah melekat pada pemikiran para pengguna komputer di dunia maya. Dengan pertimbangan sederhana tersebut, maka penulis mencantumkan alamat jonnytaurus@yahoo.com dengan konsekwensi setiap penulis on-line, maka harus memeriksa surat masuk di kolom mail.
Efek logis yang didapat dari pencantuman alamat surat elektronik adalah kita harus siap apabila menerima spam atau junk-mail dari orang-orang yang tidak bertanggungjawab, namun hal tersebut dapat diakali dengan memasang perangkat lunak fire-wall, dan anti-spam yang handal untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.
4. Membuat blog di internet
Inilah langkah yang paling menjanjikan hingga saat ini, sebab ternyata menurut Lingkaran Survei Indonesia (LSI) sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat (NGO) yang bergerak dalam berbagai survei di Indonesia, orang Indonesia lebih banyak mencari iklan dan kebutuhan lain melalui internet!, dan angka yang disajikan untuk segmen internet jauh melampaui orang mencari iklan dengan cara membuka Yellow Pages, sarana yang dikuasai oleh Yellow Pages Inc. milik Amerika, walau dalam kenyataannya Yellow Pages masuk ke setiap rumah warga negara Indonesia yang mempunyai sarana sambungan telefon kabel miliki PT. TELKOM dengan memanfaatkan sarana penyediaan buku telefon yang dibagikan secara gratis.
Penulis mencoba memanfaatkan jasa serta sarana blog gratis (free blogs) yang disediakan oleh berbagai ISP terkemuka dunia, seperti Google dengan Blogspot-nya, Yahoo! dengan Yahoo! 3600-nya, atau Beta Bloger dengan Wordpress-nya. Dalam hal ini penulis membuat blog iklan di space milik Google, yaitu id.card-murah.blogspot.com ternyata langkah tersebut berhasil, salah satunya yang memberikan respon adalah Toko Obat MIDY di Cikampek – Kabupaten Karawang, yang bersedia membuat discount-card dengan melalui presentasi dan proses sharing yang cukup lama.
Kelemahan dari pembuatan iklan di blog pribadi ini adalah ketika penulis tidak dapat memberikan jawaban kepada sebuah perusahaan kayu lapis di Samarinda yang menginginkan pembuatan ID-CARD untuk para karyawannya yang berjumlah 267 orang, dengan harga Rp. 3.500,- Bagaimana penulis dapat memenuhinya, sebab ongkos ke Samarinda p.p. tidak akan tertutup dengan omzet yang kecil, walau penulis coba bujuk agar data dapat dikirim melalui e-mail, namun mereka tetap ingin secara langsung ditangani di tempat.
Dengan berbagai pertimbangan dan dalam kondisi yang berat hati akhirnya penulis memutus-kan untuk menghapus blog tersebut dari dunia maya, dengan harapan semoga akan mendapat kesempatan yang lebih realistis dan memungkinkan di wilayah pemasaran yang berdekatan dengan tempat tinggal penulis.
5. Menempelkan pamflet di beberapa tempat
Langkah ini dapat dilakukan dengan cara yang paling mudah, biasanya dilakukan secara tidak sengaja sambil jalan atau melakukan kegiatan yang diluar rutinitas, seperti sambil memfoto copy, dan dengan seijin pemilik foto copy centre, penulis menempelkan pamflet di dinding promosi yang sering ada di tempat tersebut, atau ketika bersepeda setiap minggu pagi penulis membawa beberapa pamflet yang telah direkat double tape menempelkan beberapa pamflet di tempat-tempat umum dan strategis, seperti pintu masuk lapangan basket milik umum, atau pintu masuk kolam renang umum.
Hasilnya terasa setelah lebih dari dua minggu, ada beberapa sekolah yang terletak di wilayah Bandung timur memesan kartu pelajar, dan Alamdulillah pesanan tersebut dapat penulis penuhi.
Hingga kini cara praktis dan efektif ini masih penulis lakukan walau tidak secara berkala dan terencana, namun penulis selalu meluangkan waktu untuk dapat berpromosi, secara gratis lagi!.......


6. Membiayai Suatu Kegiatan Masyarakat
Salah satu cara lain yang penulis lakukan dalam rangka promosi produk adalah dengan mencoba menjadi sponsor kegiatan masyarakat. Menjelang bulan agustus penulis mencoba menghubungi beberapa event organizer yang biasa mengadakan acara pada perayaan “tujuh-belasan” di beberapa sekolah serta beberapa kompleks perumahan, biasanya mereka menggunakan jasa event organizer atau dikoordinir oleh para remaja yang tergabung dalam Karang Taruna setempat.
Untuk mendukung acara tersebut biasanya penulis menyediakan tanda pengenal Paniti secara gratis, dengan imbalan berupa pemasangan baligo (Outdoor Print Banner) berlogo perusahaan secara gratis untuk dijadikan layar latar pada setiap panggung pertunjukan. Dengan demikian penulis memperoleh dua keuntungan sekaligus, pertama para panitia akan mengetahui produk penulis dan kedua secara langsung pula penulis berpromosi di panggung pertunjukan mereka. Pengalaman tahun 2008, dari lima kegiatan yang menggunakan perusahaan penulis sebagai sponsor, ternyata hanya satu kegiatan yang mempunyai tindak lanjut, sedang yang lainnya tidak, artinya hanya 20% saja tingkat efektifitas dari cara tersebut..

Jawaban USM Statistika Semester I

1. Hipotesis Penelitian
a. Rumusan hipotesis masalah pertama :
Untuk melihat apakah kedua hubungan kedua variabel signifikan atau tidak berdasarkan output SPSS untuk pengujian yang pertama, maka hipotesisnya adalah :
H0 terdapat hubungan/pengaruh antara gaya kepemimpinan kepala sekolah dengan Kepuasan kerja guru
H1 Tidak ada hubungan/pengaruh antara gaya kepemimpin-an kepala sekolah dengan Kepuasan kerja guru

b. Rumusan hipotesis masalah kedua
Untuk melihat apakah kedua hubungan kedua variabel signifikan atau tidak berdasarkan output SPSS untuk pengujian yang kedua, maka hipotesisnya adalah :
H0 Terdapat hubungan / pengaruh antara Komunikasi interpersonal dengan Kepuasan kerja guru
H1 Tidak ada hubungan/pengaruh antara Komunikasi interpersonal dengan Kepuasan kerja guru

c. Rumusan hipotesis masalah ketiga
Untuk melihat apakah kedua hubungan kedua variabel signifikan atau tidak berdasarkan output SPSS untuk pengujian yang ketiga, maka hipotesisnya adalah :
H0 Terdapat hubungan/pengaruh antara gaya kepemimpinan kepala sekolah dan Komunikasi interpersonal secara bersama-sama terhadap kepuasan kerja guru
H1 Tidak terdapat hubungan/pengaruh antara gaya kepemim-pinan kepala sekolah dan Komunikasi interpersonal secara bersama-sama terhadap kepuasan kerja guru

2. Persamaan Garis Regresi Masing-Masing Tabel Adalah :

a. Untuk tabel 1
Y = a + b x
Y = 34.425 + 0.715 = 36.14

b. Untuk tabel 2
Y = a + b x
Y = 43.205 + 0.628 = 43.833

c. Untuk tabel 3
Y = a + b x1
Y = 17.320 + 0.498 = 17.818
Y = a + b x 2
Y = 17.320 + 0.120 = 17.44




3. Analisa Untuk Masing-Masing Hipotesis

a. Analisa untuk hipotesis yang pertama
H0 ditolak bila (sig<0.05)
H0 diterima bila (sig>0.05)
Dari tabel pertama dapat diketahui besarnya nilai t test 6.147 sedangkan besarnya signifikansi 0.000 lebih kecil dari 0.05 dengan demikian H0 ditolak, artinya Tidak ada hubungan/pengaruh antara gaya kepemimpinan kepala sekolah dengan Kepuasan kerja guru

b. Analisa untuk hipotesis yang kedua
H0 ditolak bila (sig<0.05)
H0 diterima bila (sig>0.05)
Dari tabel kedua dapat diketahui besarnya nilai t test 5.392 sedangkan besarnya signifikansi 0.000 lebih kecil dari 0.05 dengan demikian H0 ditolak, artinya Tidak ada hubungan/pengaruh antara Komunikasi interpersonal dengan Kepuasan kerja guru

c. Analisa untuk hipotesis yang ketiga
H0 ditolak bila (sig<0.05)
H0 diterima bila (sig>0.05)
Dari tabel ketiga dapat diketahui besarnya nilai t test 3.921 sedangkan besarnya signifikansi 0.000 lebih kecil dari 0.05 dengan demikian H0 ditolak, artinya Tidak terdapat hubungan/pengaruh antara gaya kepemimpinan kepala sekolah dan Komunikasi interpersonal secara bersama-sama terhadap kepuasan kerja guru

QUO VADIS STM IMNI KBB BANDUNG?

1. Pendahuluan

Terlebih dahulu penulis memohon maaf yang sebesar-besarnya kepada pihak Yayasan Pendidikan Gapura Baru Sejahtera selaku pengelola Sekolah Tinggi Manajemen (STM) IMNI yang telah mengijinkan penulis bersama rekan-rekan mahasiswa dari Kabupaten Bandung untuk bersama-sama menimba ilmu seraya berharap mendapat serta mencapai suatu tingkatan yang menjadi impian kami semua, yaitu memperoleh gelar Magister Manajemen Pendidikan (M.M.Pd.) demi meraih masa depan yang lebih cerah, serta memperoleh wawasan baru tentang kekinian dunia Manajemen Pendidikan di negara yang kita cintai ini.

Berawal dari keinginan tersebut di atas, serta setelah mendengar paparan dari DR. Taufik, selaku penanggungjawab penyelenggaraan perkuliahan, dalam prosesi matrikulasi awal di kelas, tentang segala fasilitas dan kemudahan yang akan IMNI berikan kepada kami para mahasiswanya, akhirnya kami tertarik untuk masuk, mendaftar, serta mengikuti proses perkuliahan yang diselenggarakan di SMA Negeri 1 Ciparay – Kabupaten Bandung. Dengan sepenuh hati kami mengikuti perkuliahan yang telah diselenggarakan, hingga sampailah kami pada salah satu tahapan yang harus kami lewati, yaitu mengikuti Ujian Akhir Semester yang pertama.

Pada awalnya kami para mahasiswa merasa bangga dan berbesar hati mengikuti perkuliahan tersebut. Bagaimana tidak bila dibanding dengan rekan-rekan kami yang mengikuti perkuliahan sejenis (Strata-2) di Lembaga Pendidikan Tinggi Keguruan (LPTK), Sekolah Tinggi atau Universitas lain yang diselenggarakan di Bandung seperti; UPI, UIN, UNINUS, UNPAS, atau STIAMI. Rata-rata mereka harus menempuh jenjang Strata-2 dengan waktu yang cukup lama, sementara kami memperoleh keringanan dalam bentuk singkatnya proses perkuliahan. Kebanggan itu hingga kini masih tetap ada dalam hati seluruh mahasiswa yang mengikuti proses perkuliahan.

Namun seiring jalannya waktu, ternyata kami pun mendapati hal-hal yang dirasa agak mengganjal dalam benak dan pemikiran kami, sebab ternyata hingga kini kami belum memperoleh suatu kejelasan yang pasti mengenai masa depan proses pembelajaran di lembaga ini.

Untuk itulah penulis selaku salah seorang mahasiswa yang mengikuti perkuliahan di Sekolah Tinggi Manajemen (STM) IMNI mencoba menuangkan dalam bentuk tulisan yang sederhana namun tidak mengurangi makna penyampaiannya.

2. Permasalahan Mendasar

Perlu diketahui bahwa hingga saat ini kami masih belum mempunyai suatu keyakinan akan kepastian akhir dari seluruh rangkaian prosesi perkuliahan ini, hal ini mungkin disebabkan oleh kurangnya pengetahuan kami mengenai Sekolah Tinggi Manajemen (STM) IMNI itu sendiri, bahkan hingga kini tidak seorangpun diantara mahasiswa yang belajar di KBB Bandung mengetahui singkatan apa IMNI itu.

Ada beberapa permasalahan mendasar yang mungkin semestinya tidak terjadi dalam proses perkuliahan ini, diantara-nya adalah masalah pembayaran perkuliahan yang menjadi kewajiban para mahasiswa, ketimpangan itu terjadi disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya :

a. Mahasiswa tersebut mungkin belum mempunyai dana yang mencukupi untuk membayar kewaijbannya, walau dari pihak Sekolah Tinggi Manajemen (STM) IMNI telah mengirimkan surat edaran berkenaan dengan batas waktu pembayaran akhir untuk semester pertama, agar kami dapat mengikuti Ujian Akhir Semester. Dalam permasalahan ini penulispun tidak dapat memberikan solusi terbaik guna mencari jalan keluarnya, namun setelah melalui pendekatan intensif akhirnya ada mahasiswa yang mau membayarnya.

b. Hingga saat ini, kami selaku mahasiswa belum merasa mempunyai legalitas atau merasa belum diakui oleh Sekolah Tinggi Manajemen (STM) IMNI, sebab hingga saat ini kami belum memiliki Nomor Induk Mahasiswa (NIM) yang menjadi bukti bahwa kami resmi menjadi mahasiswa Sekolah Tinggi Manajemen (STM) IMNI. Untuk permasalahan ini penulis telah mendapatkan jawaban logis walau sederhana dari Yth. Bpk. Junaedi, yang dengan berlapang dada menghubungi penulis melalui telefon, terima kasih untuk Bpk. Junaedi.

c. Belum jelasnya informasi yang kami terima tentang status Sekolah Tinggi Manajemen (STM) IMNI. Hal ini juga dirasakan oleh penulis, sebab setelah kami mencoba mencari tahu dan bertanya kepada beberapa pengajar di kelas kami, ternyata tidak banyak informasi yang dapat kami peroleh. Berkaitan dengan hal tersebut penulis mencoba mencari informasi melalui situs-situs internet, dan ternyata pada awalnya penulispun merasa terkejut, sebab sebuah lembaga sekaliber Sekolah Tinggi Manajemen (STM) IMNI ternyata tidak mempunyai sebuah situs-pun di internet !. Ini sangat mengejutkan, sebab sekolah tempat penulis bekerja yang berlokasi hanya di sebuah kecamatan terpencil di Kabupaten Bandung mempunyai sebuah situs (web) resmi.

Akhirnya setelah mencari penulis mendapatkan sebuah situs lama dengan alamat :

http://www.iloveblue.com/kampus/kampus_universitas_sekolah_beasiswa/101.htm yang mencantumkan Sekolah Tinggi Manajemen (STM) IMNI dengan sebuah tulisan sederhana sebagai berikut :

SEKOLAH TINGGI MANAJEMEN (STM) IMNI

Jenis Perguruan Tinggi: Swasta
A l a m a t: Jl. Teuku Cik Ditiro II/5, Menteng, Jakarta 10350
Telepon : (021) - 325568, 3145147
F a x : (021) - 3140854
E-Mail : imniedu@rad.net.id
Nama Rektor : H.A. Salim Rangkuti, SE
Sejarah Singkat

Tanggal Berdiri: Maret 1987
Pendiri : Yayasan Pendidikan Gapura Baru Sejahtera

Sekolah Tinggi Manajemen IMNI didirikan Maret 1987 oleh Yayasan Pendidikan Gapura Baru Sejahtera. Kiprahnya dimulai dengan nama Institut Manajemen Newport Indonesia sesuai dengan mitra afiliasi mereka di Amerika yaitu Newport University, California, AS. Kini, setelah program MBA ditiadakan, Sekolah Tinggi Manajemen IMNI hanya menyelenggarakan program MM, yang gelar akademiknya bisa didapat setelah melewati proses pendidikan pasca sarjana Magister Manajemen di jurusan Manajemen yang memiliki empat konsentrasi, yakni Keuangan, Pemasaran, Sumber Daya Manusia, Produksi dan Operasi. Pada bulan Oktober 2000, STM IMNI membuka peluang pula untuk program S1/Manajemen dengan konsentrasi Pemasaran, Keuangan dan Perbankan, Produksi, SDM. Juga dibuka S1- Akuntansi.

Profil

Jumlah Mahasiswa Sekarang : 120
Jumlah Alumni: 680
Jumlah Dosen Tetap : 27
Jumlah Dosen Lulusan S2 : 21
Jumlah Dosen Lulusan S3 : 6
Luas Kampus : 1.171 m2
Koleksi Perpustakaan : 126 judul, 2.455 eksemplar
Laboratorium : Satu laboratorium komputer
Fasilitas Lain : kampus berlantai dua seluas 650 m2 dengan sembilan ruang kuliah, dan beberapa fasilitas administrasi

Program Studi

Program Studi :
Program Studi Magister Manajemen (S2-terakreditasi-1993)
- Keuangan
- Pemasaran
- Sumber Daya Manusia
- Produksi dan Operasi
Lain - Lain

Kerjasama : Newport University, sebuah perguruan tinggi terkemuka di Newport Beach, California, USA

Dari situs tersebut penulis memperoleh nama Institut Manajemen Newport Indonesia (IMNI), namun penulis berpendapat bahwa situs tersebut pasti situs lama, atau kalaupun pernah di-upgrade pasti salah, dengan alasan sebagai berikut :

a) Sekolah Tinggi sekaran tidak lagi dipimpin oleh seorang Rektor tetapi oleh seorang Ketua yang dibantu oleh Pembantu Ketua yang membidangi garapannya masing-masing.

b) Tertulis jelas alamat E-Mail : imniedu@rad.net.id yang dikelola oleh PT Rahajasa Media Internet dan sekarang sudah tidak lagi efektif digunakan, sebab provider tersebut banyak melakukan proses black-list bagi user yang tidak aktif

c) Keraguan muncul ketika membaca bahwa program Magister Manajemen yang dibuka hanya memiliki empat konsentrasi, yaitu Keuangan, Pemasaran, Sumber Daya Manusia, Produksi dan Operasi, artinya jelas bahwa lembaga ini hanya berhak mengeluarkan gelar Magister Manajemen (MM) saja, dan bukan gelar Magister Manajemen Pendidikan (M.M.Pd.) atau gelas Magister Manajemen lainnya, semisal MM.Kesehatan, Psikologi, Sain, dan lain sebagainya

d) Status Akreditasi hanya berlaku hingga 1993 tentu saja ini sudah kadaluarsa, namun pasti dapat diperpanjang atau diperbaharui melalui proses aktreditasi yang berlangsung.

Dengan berbekal keyakinan bahwa situs di atas adalah situs lama yang tidak mengalami proses up-grade maka penulis pun mencoba utuk memahami kondisi yang ada walau tetap terdapat pertanyaan yang sama yaitu mengapa lembaga sekaliber Sekolah Tinggi Manajemen (STM) IMNI ternyata tidak mempunyai sebuah situs-pun di internet !.

Rasa penasaran terus menyeruak dalam pikiran penulis, hingga penulis mendapatkan sebuah situs lain dengan alamat

http://www.iloveblue.com/kampus/kampus_universitas_sekolah_beasiswa/101.htm

yang berisi informasi tentang Sekolah Tinggi Manajemen (STM) IMNI yang memuat informasi yang lebih ringkas, yaitu :

SEKOLAH TINGGI MANAJEMEN
"IMNI"

Jln. Teuku Cikditiro II No. 5, Jakarta Pusat 10350
Telp. 325568, 3145147 Fax. 3140854

Jurusan :
- Program Studi Magister Manajemen (S2-Terakreditasi-1993)
Biaya Kuliah Rp. 10.500.000

- Program MBA (S2-Terakreditasi-1993)
Biaya Kuliah Rp. 10.500.000

Mulai Pendaftaran :
1 Juli s/d 17 Juli 2000

Mulai Perkuliahan :
Juli 2000

Informasi yang di dapat dari situs tersebut, justru hanya menambah kebingungan penulis, bagaimana tidak program MBA yang sudah lama ditiadakan bagi penyelenggara lembaga pendidikan dalam negeri masih terpampang hingga kini., walau tertulis jelas masa pendafarannya untuk tahun 2000.

Akhirnya penulis mencari di situs resmi milik Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT), di http://www.ban-pt.or.id/ dan didapatlah sebuah informasi sederhana, gamblang, namun tetap masih agak membingungkan, yaitu :

HASIL PENCARIAN AKREDITASI PROGRAM STUDI

No.

WIL.

Tk.

Perguran Tinggi

Program Studi

No. SK

Th. SK

Peringkat

Nilai

Tgl. Daluwarsa (th-bl-tg)

1

03

S2

ST Manajemen IMNI

Manajemen

001

2006

C

3.1

2009-05-04

Jelas, sebab seperti kita ketahui bahwa proses akreditasi program studi oleh Badan Akreditasi Nasional – Perguruan Tinggi dimulai dengan pelaksanaan evaluasi diri di program studi yang bersangkutan. Evaluasi diri tersebut mengacu pada pedoman evaluasi diri yang telah diterbitkan BAN-PT, namun, jika dianggap perlu, pihak pengelola program studi dapat menambahkan unsur-unsur yang akan dievaluasi sesuai dengan kepentingan program studi maupun institusi perguruan inggi yang bersangkutan.

Dari hasil pelaksanaan evaluasi diri tersebut, dibuat sebuah rangkuman eksekutif (executive summary), yang selanjutnya rangkuman eksekutif tersebut dilampirkan dalam surat permohonan untuk diakreditasi yang dikirimkan ke sekertariat BAN-PT.

Sekertariat BAN-PT akan mengkaji ringkasan eksekutif dari program sudi tersebut, dan jika telah memenuhi semua kompoen yang diminta dalam pedoman evaluasi diri sekertariat BAN-PT akan mengirimkan instrumen akreditasi yang sesuai dengan tingkat program studi

Setelah instrumen akreditasi diisi, program studi mengirimkan seluruh berkas (intrumen akreditasi yang telah diisi dan lampirannya, beserta copy-nya) ke sekertariat BAN-PT. Jumlah copy yang harus disertakan untuk program studi tingkat Diploma dan Sarjana sebanyak 3 copy, sedangakan untuk progrma studi tingkat Magister dan Doktor sebanyak 4 copy.

Penilaian dilakukan setelah seluruh berkas diterima secara lengkap oleh sekertariat BAN-PT.

Proses akreditai program studi dapat diilustrasikan seperti gambar dibawah ini.

Akreditasi dipahami sebagai penentuan standar mutu serta penilaian terhadap suatu lembaga pendidikan (dalam hal ini pendidikan tinggi) oleh pihak di luar lembaga pendidikan itu sendiri. Mengingat adanya berbagai pengertian tentang hakikat perguruan tinggi (Barnet, 1992) maka kriteria akreditasi pun dapat berbeda-beda. Barnet menunjukkan, bahwa setidak-tidaknya ada empat pengertian atau konsep tentang hakikat perguruan tinggi :

1) Perguruan tinggi sebagai penghasil tenaga kerja yang bermutu (qualified manpower). Dalam pengertian ini pendidikan tinggi merupakan suatu proses dan mahasiswa dianggap sebagai keluaran (output) yang mempunyai nilai atau harga (value) dalam pasaran kerja, dan keberhasilan itu diukur dengan tingkat penyerapan lulusan dalam masyarakat (employment rate) dan kadang-kadang diukur juga dengan tingkat penghasilan yang mereka peroleh dalam karirnya.

2) Perguruan tinggi sebagai lembaga pelatihan bagi karier peneliti. Mutu perguruan tinggi ditentukan oleh penampilan/prestasi penelitian anggota staf. Ukuruan masukan dan keluaran dihitung dengan jumlah staf yang mendapat hadiah/penghargaan dari hasil penelitiannya (baik di tingkat nasional maupun di tingkat internasional), atau jumlah dana yang diterima oleh staf dan/atau oleh lembaganya untuk kegiatan penelitian, ataupun jumlah publikasi ilmiah yang diterbitkan dalam majalah ilmiah yang diakui oleh pakar sejawat (peer group).

3) Perguruan tinggi sebagai organisasi pengelola pendidikan yang efisien. Dalam pengertian ini perguruan tinggi dianggap baik jika dengan sumber daya dan dana yang tersedia, jumlah mahasiswa yang lewat proses pendidikannya (throughput) semakin besar.

4) Perguruan tinggi sebagai upaya memperluas dan mempertinggi pengkayaan kehidupan. Indikator sukses kelembagaan terletak pada cepatnya pertumbuhan jumlah mahasiswa dan variasi jenis program yang ditawarkan. Rasio mahasiswa-dosen yang besar dan satuan biaya pendidikan setiap mahasiswa yang rendah juga dipandang sebagai ukuran keberhasilan perguruan tinggi.

Perguruan tinggi di Indonesia merupakan campuran yang mengandung unsur-unsur dari keempatnya, oleh karena itu sistem akreditasi BAN-PT memperhatikan konsep dasar tersebut.

Ada dua model akreditasi yang dikembangkan oleh BAN-PT, yaitu akreditasi program studi dan akreditasi institusi perguruan tinggi :

A. Model Akreditasi Program Studi

Dalam model Akreditasi program studi BAN-PT melakukan penilaian berdasarkan stantda-standar sebagai berikut

ü DIMENSI

· Masukan (input)

· Proses (process)

· Luaran dan hasil (output dan outcome)

ü STANDAR AKREDITASI POGRAM STUDI

· Jatidiri, Visi, Misi , dan Tujuan

· Pengelolaan Lembaga dan Program

· Mahasiswa dan Bantuan

· Kurikulum

· Ketenagaan : Dosen dan Tenaga Pendukung

· Sarana dan Prasarana

· Pendanaan

· Proses Pembelajaran dan Penilaian Hasil Belajar

· Penelitian, Publikasi dan Thesis

· Suasana Akademik

· Pengabdian Kepada Masyarakat

· Sistem peningkatan dan pengendalian mutu

· Sistem Informasi

· Lulusan

ü ASPEK

· Relevansi (Relevancy) merupakan tingkat keterkaitan tujuan maupun hasil/ keluaran program studi dengan kebutuhan masyarakat di lingkungannya maupun secara global.

· Suasana Akademik (Academic Atmosphere) yang menunjukkan iklim yang kondusif bagi kegiatan akademik, interaksi antara dosen dan mahasiswa, antara sesama mahasiswa, maupun antara sesama dosen untuk mengoptimalkan proses pembelajaran.

· Pengelolaan Institusi (Institutional Management) yang mencakup Kelayakan (Appropriateness) dan Kecukupan (Adequacy). Dimana Kelayakan yang menunjukkan tingkat ketepatan (kesesuaian) unsur masukan, proses, keluaran, maupun tujuan program ditinjau dari ukuran ideal secara normatif, sedangkan Kecukupan menunjukkan tingkat ketercapaian persyaratan ambang yang diperlukan untuk penyelenggaraan suatu program

· Keberlanjutan/Sustainability mencakup Keberlanjutan (Sustainability) dan Selektivitas (Selectivity). Dimana Keberlanjutan menggambarkan keberlangsungan program yang dijamin oleh ketersediaan masukan, aktivitas pembelajaran, maupun pencapaian hasil yang optimal, sedangkan Selektivitas menunjukkan bagaimana penyelenggara program memilih unsur masukan, aktivitas proses pembelajaran, penelitian, dan penentuan prioritas hasil/keluaran berdasarkan pertimbangan kemampuan/ kapasitas yang dimiliki.

· Efisiensi (Efficiency) yang mencakup Efisiensi (Efficiency), Efektivitas (Effectiveness) dan Produktivitas (Productivity). Dimana Efisiensi menunjuk tingkat pemanfaatan masukan (sumberdaya) terhadap hasil yang didapat dari proses pembelajaran, dan Efektivitas adalah tingkat ketercapaian tujuan program yang telah ditetapkan yang diukur dari hasil/keluaran program, sedangkan Produktivitas menunjukkan tingkat keberhasilan proses pembelajaran yang dilakukan dalam memanfaatkan masukan.

Model Akreditasi Program studi dapat diilustrasikan seperti gambar di bawah ini



B. Model Akreditasi Institusi Perguruan Tinggi

Dalam model Akreditasi institusi perguruan tinggi BAN-PT melakukan penilaian institusi perguruan tinggi dengan memperhatikan dua komitmen inti, yaitu

ü KOMITMEN PERTAMA : KAPASITAS INSTITUSI

§ Kapasitas institusi dicerminkan dalam ketersediaan dan kecukupan berbagai perangkat dasar yang diperlukan untuk menyelenggarakan pendidikan, seperti:

· Eligibilitas, integritas, visi, misi, tujuan, dan sasaran

· Tata pamong (governance)

· Sistem Pengelolaan

· Sumber daya manusia

· Prasarana dan sarana

· Keuangan

· Sistem informasi

ü KOMITMEN KEDUA : EFEKTIVITAS PENDIDIKAN

§ Efektifitas pendidikan dicerminkan dengan tersedianya sejumlah masukan, proses dan suasana yang diperlukan dalam proses pendidikan serta produk kegiatan akademik seperti:

· Kemahasiswaan

· Kurikulum

· Sistem pembelajaran

· Penelitian, publikasi, karya inovatif lainnya, pengabdian kepada masyarakat

· Sistem jaminan mutu

· Suasana akademik

· Lulusan

· Mutu Program Studi

3. Kondisi Nyata

Setelah menyimak reasoning di bagian depan, penulis ingin pula memaparkan kondisi nyata di lapangan, khususnya di KBB Kabupaten Bandung yang dilaksanakan di SMA Negeri 1 Ciparay. Yang dimaksud dengan kondisi nyata adalah keadaan sebenarnya berdasarkan fakta yang ada tanpa adanya rasa ingin memojokkan salah satu pihak, baik itu pihak lembaga penyelenggara, dalam hal ini Sekolah Tinggi Manajemen (STM) IMNI, Penyelenggara harian (koordinator kegiatan/lapangan), ataupun pihak mahasiswa peserta perkuliahan.

Kondisi nyata saat ini yang penulis rasakan adalah :

a. Para mahasiswa merasa rikuh dan sungkan dalam proses perkuliahan, bertemali dengan status tempat yang selama ini digunakan untuk kegiatan perkuliahan, yaitu ruang multi- media milik SMA Negeri 1 Ciparay, sebab didapat informasi dari salah seorang staf pengajar SMA Negeri 1 Ciparay bahwa hingga saat ini ternyata pihak penyelenggara belum memenuhi kewajiban sewa tempat kepada pemiliknya, walau penulis tidak mengetahui dengan jelas bagaimana Memorandum Of Understanding yang disusun oleh kedua lembaga tersebut, namun hal ini membuat gerah kami para mahasiswa peserta perkuliahan.

b. Struktur kurikulum perkuliahan yang telah disampaikan kepada kami, ternyata kenyataannya menjadi bias, sebab ada beberapa mata kuliah yang bergeser, tidak sesuai dengan penugasan (mungkin), sebab ada dosen yang merasa bahwa salah satu mata kuliah ini adalah pegangan dan kewajibannya, namun ternyata sudah diberikan kepada dosen lain, dan jumlah pertemuan yang terbilang elastis, sebab ada dosen yang menghendaki jumlah pertemuan tambahan. Penulis berpendapat bahwa dari segi kualifikasi pengajar yang datang ke tempat kami adalah dosen-dosen qualified, namun ternyata dari dosen-dosen tersebut tidak banyak yang mengetahui apa da bagaimana status Sekolah Tinggi Manajemen (STM) IMNI. Seperti penulis kemukakan di depan, bahwa pasti akan ada keraguan yang timbul dari para mahasiswa, buktinya tidak sedikit yang pernah mencoba mengikuti perkuliahan, namun setelah satu atau dua pertemuan mereka tidak melanjutkan atau mengikuti lagi proses perkuliahan. Ini nyata!, padahal sejatinya dengan kesiapan yang matang dan terencana maka tidak akan pernah ada lagi mahasiswa baru yang meninggalkan perkuliahan dan tidak pernah kembali lagi mengikuti proses kegiatan perkuliahan

c. Dari lamanya waktu proses perkuliahan yang telah kami jalani, dengan banyaknya jumlah mahasiswa peserta perkuliahan, ternyata hingga saat ini menurut laporan Yth. Bpk. Junaedi, baru hanya 10 (sepuluh) orang saja yang datanya masuk di sekretariat Sekolah Tinggi Manajemen (STM) IMNI. Pertanyaannya adalah; mengapa sebagian besar dari kami masih belum tercatat?, walau mereka sudah mengisi dan memberikan biodatanya masing-masing kepada penyelenggara. Walau sepele namun hal ini menjadi suatu kendala bagi kami dalam perjalanan selanjutnya.

d. Kami hingga saat ini merasa puas dalam pelayanan yang diberikan oleh penyelenggara walau terkadang masih banyak pertanyaan yang bergumul dalam pikiran kami masing-masing, apakah kami yang menjadi angkatan pertama akan menuai sukses, sehingga dapat diikuti oleh rekan-rekan kami lainnya kelak di masa yang akan datang. Kiranya hal-hal yang penulis ungkapkan pada bagian terdahulu tulisan ini menjadi suatu dasar pijakan untuk sesegera mungkin seluruh pihak menempatkan diri pada posisinya masing-masing sesuai dengan tugas dan kewajibannya.

4. Potensi Yang Masih Terpendam

Kami adalah angkatan pertama mahasiswa Sekolah Tinggi Manajemen (STM) IMNI di Kabupaten Bandung, namun melihat kenyataan yang ada, sebenarnya masih banyak rekan-rekan kami para guru SLTP, SMA/SMK serta pegawai struktural yang ada di Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Bandung yang ingin turut serta menempuh perkuliahan untuk mendapatkan gelar Magister Manajemen Pendidikan di Sekolah Tinggi Manajemen (STM) IMNI, mengingat kemudahan dan fasilitas yang diberikan oleh lembaga ini. Untuk itu angkatan pertama ini harus menjadi contoh yang baik dan diharapkan menjadi cikal bakal untuk angkatan-angkatan selanjutnya.

Secara perkiraan kasar mungkin lebih dari 80% - 90% guru SLTP, SMA/SMK serta pegawai struktural yang berdinas di Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Bandung belum menempuh pendidikan Strata-2, sehingga penulis mempunyai keyakinan bahwa ini adalah suatu prospek yang baik bagi lembaga penyelenggara pendidikan Strata-2 termasuk juga Sekolah Tinggi Manajemen (STM) IMNI. Amat sangat disayangkan bila potensi ini diabaikan dan dibiarkan berlalu begitu saja, sementara lembaga pendidikan lain sedemikian gencar melakukan promosi program Strata-2 nya.

Untuk itu penulis memberanikan diri untuk memberikan konstribusi dalam bentuk saran pendapat yang sederhana, semisal :

a. Perlu penataan yang baik dan terencana untuk rekruitmen mahasiswa baru di masa yang akan datang dengan tidak berbatas waktu dan tempat penyelenggaraan perkuliahan, mengingat para guru SLTP, SMA/SMK serta pegawai struktural yang berdinas di Dinas Pendidikan dan Kebudaya-an Kabupaten Bandung mempunyai waktu kerja dan tempat yang berbeda-beda. Untuk permasalahan ini penulis dan rekan-rekan siap membantu dalam proses rekruitmen mahasiswa di masa yang akan datang, tentu saja dengan penataan job-description yang jelas, terarah dan terencana.

b. Pengelolaan manajemen penyelenggara perkuliahan yang perlu ditingkatkan, sehingga seluruh program/perencanaan, proses hingga evaluasi dapat dengan baik dilaksanakan oleh seluruh komponen yang terlibat di dalamnya, mulai dari mahasiswa, dosen, pengelola hingga lembaga pedidikan, yang dalam hal ini adalah Sekolah Tinggi Manajemen (STM) IMNI. Pengelolaan manajemen yang baik akan sangat membantu pihak-pihak yang terlibat dalam seluruh kegiatan perkuliahan ini.

c. Bila lembaga ini ingin berkembang di wilayah Kabupaten Bandung, maka perlu dibuat sebuah sekretariat yang beralamat tetap dan representatif untuk Sekolah Tinggi Manajemen (STM) IMNI, sehingga lalu lintas komunikasi serta informasi dapat berjalan dengan baik. Sebab dengan komunikasi dan informasi yang disertai promosi yang baik, maka lembaga pendidikan apapun dapat berkembang dan dapat mengakar di hati masyarakat.

d. Serta hal-hal yang bertemali dengan pelayanan serta penyediaan fasilitas proses pembelajaran adalah faktor yang menentukan dalam penyelenggaraan pendidikan, terutama pada jenjang strata-2

Mengingat keberadaan potensi yang dimiliki Sekolah Tinggi Manajemen (STM) IMNI untuk lebih berkembang di wiayah Kabupaten Bandung, sebenarnya masih amat banyak langkah yang perlu dievaluasi, namun sebagian pendapat penulis di atas adalah hanya salah satu bentuk cetusan dari keseriusan penulis dalam mengikuti pendidikan jenjang Strata 2 di Sekolah Tinggi Manajemen (STM) IMNI.

Tentu saja, tanpa menapikan pendapat rekan-rekan lain pihak Sekolah Tinggi Manajemen (STM) IMNI harus mampu menggali seluruh potensi yang masih terpendam tersebut.

5. Way Out

Setelah mempertimbangkan seluruh pemikiran yang telah penulis tuangkan, maka menjadi konsekwensi logis bagi penulis untuk mencoba member masukan bagi pihak Sekolah Tinggi Manajemen (STM) IMNI, agar proses pendidikan jenjang Stata-2 Konsentrasi Manajemen Pendidikan di Kabupaten Bandung dapat terselenggara dengan baik. Masukan tersebut antara lain :

a. Membuat panduan yang ringkas dan jelas tentang susunan atau struktur kurikulum yang akan diberikan kepada para mahasiswa dan calon mahasiswa, sehingga tidak akan pernah muncul lagi keraguan di pihak mereka. Bentuk panduan tersebut dapat berupa brosur atau sejenisnya, namun dengan jelas dan tegas memberikan arahan pasti berkenaan dengan segala sesuatu yang bertemali dengan proses pendidikan jenjang strata-2 Konsentrasi Manajemen Pendidikan di Sekolah Tinggi Manajemen (STM) IMNI.

b. Selain menyusun panduan, langkah selanjutnya adalah menyusun personil penyelenggara dengan mandat yang jelas dan tegas untuk wilayah Kabupaten Bandung, sehingga tidak terjadi tumpang tindih kebijakan yang dapat berujung pada saling menyalahkan pihak lain.

c. Membangun sebuah web-site di internet, dengan berbagai kelengkapan yang dibutuhkan, seperti struktur kurikulum, susunan pengajar dan guru besar, link terkait untuk pustaka bahan kuliah, forum diskusi, penyediaan modul perkuliahan dalam bentuk e-learning, disertai dengan sampel-sampel penelitian milik Sekolah Tinggi Manajemen (STM) IMNI untuk memudahkan para mahasiswa menyusun Thesis pada akhir semester perkuliahan mereka.

Mengingat pelaksanaan perkuliahan yang dilaksanakan di berbagai daerah di wilayah negara kita, maka pembuatan web ini menjadi suatu kebutuhan yang tidak terbantahkan serta untuk mempermudah bagi Sekolah Tinggi Manajemen (STM) IMNI memantau keberadaan mahasiswanya. Web ini juga diharapkan akan menjadi sarana atau fasilitas bagi para mahasiswa untuk berkonsultasi tentang hal-hal yang bertemali dengan materi-materi perkuliahan, selain menjadi salah satu tolok ukur prestise milik lembaga.

Untuk hal ini penulis dan beberapa rekan dari Bandung siap untuk membantu penyediaan serta pembangunan web tersebut, tinggal kesiapan pihak Sekolah Tinggi Manajemen (STM) IMNI untuk menyediakan fasilitas yang dibutuhkan oleh web-master.

6. Penutup

Hasbunallah,…cukuplah hanya Allah yang akan selalu menjadi penolong dalam seluruh rangkaian perjalanan hidup dan kehidupan ini. Kepada-Nya kita menyembah dan kepada-Nya pula kita meminta pertolongan. Pada bagian akhir tulisan ini penulis memohon maaf kepada semua pihak yang mungkin merasa terpojok, terlangkahi atau merasa didikte oleh tuisan ini. Untuk itu anggaplah tulisan ini sebagai “Tausyiyah Khofifah” atau nasehat ringan dari seseorang yang tidak mengetahui apapun juga tentang Sekolah Tinggi Manajemen (STM) IMNI.

Ini hanya sebuah bentuk rasa sayang dan takzim penulis terhadap Sekolah Tinggi Manajemen (STM) IMNI, tempat dimana sekarang penulis menuntut ilmu. Kurang dan lebihnya penulis serahkan hanya kepada Allah swt. tempat penulis meminta ampunan seraya bersujud syukur atas semua Karunia Nikmat yang telah diberikan-Nya.

Semoga tulisan ini juga dapat memacu dan memicu semangat seluruh komponen terkait untuk dapat berbuat lebih baik di masa yang akan datang, semoga Allah senantiasa meridhoi seluruh perjuangan kita.

Aamiin….